Nikmatnya Threesome Dengan Ibu Dan Anak

CERITA SEKS ONLINE –

Nama saya Tobi , 35 tahun Berawal dari hobby saya berenang, kira-kira 3 minggu yang lalu, saya memulai hubungan lagi dengan seorang ibu rumah tangga, kali ini beserta putrinya yang masih kelas 2 SMP. Ceritanya begini,…

Waktu itu saya berenang di kolam renang milik sebuah Country Club, dimana saya tercatat sebagai membernya. Saat itu sudah amat sore, sekitar pukul 5. Saya baru saja naik ke pinggir kolam renang untuk handukkan. Saya melihat ada seorang gadis mungil bersama anak perempuan kecil, gadis itu kira-kira berusia antara 14-15 tahun.

Karena gadis itu berdiri tidak jauh dari saya, saya liatin aja dia. Untuk usia segitu, badannya boleh dibilang bagus, wajah manis, kulit putih bersih, rambut panjang, swimsuit yang benar-benar sexy dan sekilas saya lihat bibir dan dadanya yang menantang sekali. Setelah saya perhatikan baik-baik, tiba-tiba ‘adik kecil’ saya bangun, bagaimana tidak,… ternyata dia tidak mengenakan celana dalam. Hal ini nyata sekali dari belahan vaginanya yang tercetak di baju renangnya itu.

Eh,…gak disangka-sangka, si anak kecil (yang ternyata adiknya), menghampiri saya, lalu dia bilang “Om, mau main bola sama Grisa gak ?”.

“Eh,… mmh,… boleh,… kamu sama kakakmu ya ?” tanya saya gugup.

“Iya,… itu kakak !”. katanya sambil menunjuk kakaknya. Lalu saya hampiri dia dan kami berkenalan. Ternyata, gadis manis itu bernama Vivi , dan juga, dia baru kelas 2 SMP. “Mmh, Vivi cuma berdua sama Grisa ?” tanya saya mencoba untuk menghangatkan suasana.

“Nggak Om, kami sama mami. Mami lagi senam BL di Gym diatas!” kata Vivi sambil menunjuk atas gedung Country Club. “Ooo,… sama maminya, toh” kata saya,“Papi kamu ndak ikut Vi?”

“Nggak, Papi kan kalo pulang malem banget, yaa,… jam-jam 2-an gitu deh. Berangkatnya pagiii bener” katanya lucu.

Saya tersenyum sambil memutar otak untuk dapat berkenalan sama maminya, “Mmh, mami kamu bawa mobil Vi? kalo ndak bawa, nanti pulang sama Om saja, mau ndak ? Sekalian Om kenalan sama mami kamu, boleh kan ?”

“Boleh-boleh aja sih Om. Tapi, rencananya, habis dari sini, mau ke Mall sebentar. Grisa katanya mau makan McD.”

“O,.. ya udah ndak apa-apa. Om boleh ikut kan ? Nanti pulangnya Om anterin” Tapi yang menjawab si kecil Grisa, “Boleh,… Om boleh ikut,….”

Sekitar ½ jam kami mengobrol, mami mereka datang. Dan ternyata, orangnya cantik banget. Tinggi dan Buah dada yang besar dan ranum, leher dan kulit yang putih,… pokoknya mirip. Singkat cerita, kami pun berkenalan. Vivi dan Grisa berebut bercerita tentang awal kami semua berkenalan, dan mami mereka mendengarkan sambil tersenyum-senyum, sesekali melirik ke saya.

Nama mami mereka Sisi , umurnya sudah 29 tahun, tapi bodinya,… 20 tahun. Ngobrol punya ngobrol, ternyata Sisi dan suaminya sedang pisah ranjang. Saya dalam hati berkata, wah,… kesempatan nih. Makanya setelah makan dari Mall, saya memberanikan diri untuk mengantarkan mereka ke rumah, dan ternyata Sisi tidak berkeberatan. Setelah sampai di rumahnya di bilangan Cilandak, saya dipersilahkan masuk, langsung ke ruang keluarganya.

Waktu itu sudah hampir jam 8 malam. Grisa yang sepertinya capek sekali, langsung tidur. Tapi saya, Sisi dan Vivi ngobrol-ngobrol di sofa depan TV.“Si, suamimu sebenarnya kerja dimana?”, tanya saya.

“Anu mas,… dia kontaraktor di sebuah perusahaan penambangan gitu,” jawab Sisi ogah-ogahan.

“Iya Om, jangan nanya-nanya Papi.Mami suka sebel kalo ditanya tentang dia,” timpal Vivi , yang memang kelihatan banget kalo dia deket sama maminya.Mendengar Vivi bicara seperti itu, Sisi agak kaget, “Vivi , nggak boleh bicara gitu soal Papi, tapi bener mas, aku ngak suka kalo ditanya soal suamiku itu”.

”Iya deh, aku nggak nanya-nanya lagi,…” kata saya sambil tersenyum.“Eh Iya,… Mas Tobi mau minum apa ?” tanya Sisi sembari bangkit dari sofa, “Kopi mau ?

“Eh,… iya deh boleh,… “ jawab saya.Tak lama kemudian Sisi datang sambil membawa 2 cangkir kopi.“Ini kopinya,…” katanya sambil tersenyum. Vivi yang sedang nonton TV, dengan mimik berharap tiba-tiba berkata, “Om, malem ini nginep di sini mau ya ? bolehkan mam ?” Sisi yang ditanya, menjawab dengan gugup, “Eh,… mmh,… boleh-boleh aja,… tapi emangnya Om Tobi mau ?” Merasa dapat durian runtuh, saya menjawab sekenanya, “Yah,… mau sih,… “

Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan jam ½ 12 malam ketika Sisi berdiri dari sofa dan berkata, “Mas Tobi ,aku mau ganti baju tidur dulu ya ?”

“Eh, iya,… “ jawab saya, “kamu ndak tidur Vi, kan besok sekolah ?”“Mmh, belom ngantuk,… “ jawabnya lucu.Tak lama kemudian, Sisi datang lagi ke ruang TV dengan mengenakan busana tidurnya yang tipis sekali. Di dalamnya dia hanya memakai celana dalam jenis G-string dan Bra tanpa tali. Vivi yang sedang tidur-tiduran di karpet terbelalak kaget melihat maminya memakai baju se-sexy itu.“Ya ampun,… mami,… bajunya itu lho, gak sopan banget.”

“Gak papa Vi, mami udah lama nggak pake baju ini. Sekalian nyobain lagi,” kata Sisi sambil tersenyum ke arah saya, “Om Tobi aja nggak keberatan, masa kamu keberatan sih ?”

Saya yang masih terkagum-kagum dengan kemulusan body Sisi , tidak bisa bicara apa-apa lagi.“ Vikamu tidur sana, sudah malam. Besok terlambat sekolah,… mami masih mau ngobrol sama Om Tobi ,… sana tidur!” kata Sisi .Saya yang memang sudah pingin sekali mencoba tubuh Sisi , juga ikut-ikutan ngomong,

“Iya, Vi’ besok telat masuk sekolahnya,… kamu tidur duluan sana.”Vivi  sepertinya kesal sekali di suruh tidur, “Aaahh,… mami nih. Orang masih mau ngobrol sama Om Tobi kok,…” tapi dia masuk juga ke kamarnya.

Setelah ditinggal Vivi , saya mulai melakukan agresi militer.“Si, kok kamu pake baju kaya gitu sih ? kamu tidak malu apa sama aku, kita kan baru kenal. Belum ada 1 hari,… kamu ndak takut apa kalo’ aku apa-apain ? “Mas, aku memang sudah lama nggak pake baju ini. Kalaupun toh pake, suamiku sudah nggak peduli lagi kok sama aku. Dia lebih memilih sekretarisnya itu,” kata Sisi dengan mimik muka sedih.“Berarti suami mu itu tolol.

Dia nggak liat apa, kalo istrinya ini punya badan yang bagus, kulitnya putih, bibirnya tipis,… wah, kalo aku jadi suamimu, thak perem kamu ndak boleh keluar kamar,” kata saya bercanda.

“Dan lagi kamu punya ‘itu’ mengkel banget,…”Si Sisi menatap saya dengan wajah lugu, “Itu apa mas ?”“Mmh, boleh aku jujur tidak ?”“Boleh,… ngomong aja ““Anu,… payudaramu itu lho,… mengkel banget, dan lagi aku yakin kalo ‘anu’mu pasti seukuran satu sendok makan” kata saya sambil melakukan penetrasi dengan mengelus pahanya.“Ooo,… ini,” kata Sisi sambil memegang buah dadanya sendiri, “Mas Tobi mau ? terus apaku yang seukuran…”Belum selesai Sisi berbicara, langsung saja aku potong dengan memegang dan mengelus kemaluannya, “Ini,.. mu,… buka dong bajumu !” kata saya asal.

Sisi yang sepertinya sudah setengah jalan, langsung melepas kain tipis yang menutupi tubuhnya. Sambil mengulum bibirnya yang tipis dan hangat, saya langsung membuka bra-nya. Sisi dengan gerakan spontan yang halus sekali, membiarkan celana dalamnya saya lucuti.“Mas, aku sudah telanjang.

Nikmatnya Threesome Dengan Ibu Dan Anak

Sekarang gantian ya,…” kata Sisi tanpa memberi saya kesempatan bicara, Sisi langsung melepas baju dan celana serta celana dalam saya, akibatnya dia shock setengah mati melihat batangan saya yang sudah terkenal itu. Hebatnya lagi, dia tanpa minta ijin, langsung jongkok di bawah saya dan mengulum si ‘adik’ dengan beringas. Sekitar 5 menit kemudian, dia berdiri dan menyuruh saya untuk menjilati bibir vertikalnya. Sisi kelojotan setengah mati, ketika lidah saya menyapu dengan kasar klitorisnya.

Sisi saya suruh terlentang di karpet dan membuka kakinya, ‘Veggy’nya yang sudah basah itu, saya hajar dengan gerakan tajam dan teratur. Sambil terus menyerang, saya meremas buah dadanya yang besar, dan menghisap lidahnya dalam-dalam ke mulut saya. Sekitar 10 menit kami melakukan gaya itu, kemudian dia berdiri dan membelakangi saya dengan posisi menungging dan berpegangan di meja komputer didepannya, dia membuat jalan masuk dengan menggunakan kedua jarinya.

Langsung saya pegang pantatnya dan saya tusuk dia perlahan-lahan sebelum gerakan makin cepat karena licinnya liang surga itu. Tak lama kemudian, Sisi bergetar hebat sekali,… dia orgasme, tapi cairan sperma saya belum juga mau keluar. Saya percepat gerakan saya, dan tidak memperdulikan erangan dan desahan Sisi , dalam hati saya berkata, dia enak sudah klimaks, aku kan belum. Tak lama kemudian saya sudah ndak tahan.

Saya tanya : “Si, aku mau keluar,… dimana nih ?”Di tengah cucuran keringat yang amat banyak, Sisi mendesah sambil berpaling ke arah saya, “Di dalam aja mas ! biar lengkap “Benar saja, akhirnya cairan saya, saya semprotkan semua di dalam liang vaginanya. Banyak sekali, kental dan lengket.

Setelah itu, kami duduk di sofa sambil dia saya suruh menjilati ‘Mr. Penny’ saya. Hisapan Sisi tetap tidak berubah, tetap penuh gairah, walaupun bibirnya terkadang lengket di kepala ‘Mr. Penny’ saya.Sekitar 5 menit, Sisi menikmati si ‘vladimir’, sebelum dia akhirnya melepaskan hisapannya dan bangun.“Mas, aku ke kamar mandi dulu ya,” katanya, “Aku mau nyuci ‘ini’ dulu,” sambil dia mengelus vaginanya sendiri.“Ya,… jangan lama-lama,… “ kata saya.

Karena sendirian, saya kocok saja sendiri batangan saya. Tiba-tiba si Vivi keluar kamar,… dia berdiri di depan pintu kamarnya sambil memperhatikan saya. Saya kaget sekali.“Loh, Vi… kamu belum tidur ?” tanya saya setengah panik.“Belum.” Jawabnya singkat. Lalu dia berjalan ke arah saya, sementara saya berusaha menutupi ‘Mr. Penny’ saya dengan bantal sofa. “Om, tadi ngapain sama mami ?” tanyanya lagi.“Eh,… anu,… Om sama mami lagi… “ belum selesai saya menjelaskan, Sisi masuk ke ruang TV.

AGEN POKER ONLINE CEME QQ CAPSA QQ DOMINO QQ BANDAR QQ >> DAFTAR DI SINI

Dia kaget sekali melihat Vivi ada di situ. Sambil tangan kanannya menutupi vaginanya dan tangan kirinya menyilang menutupi buah dadanya yang ranum (tidak semua tertutupi sih…),Sisi  berkata, “Vi kamu ngapain, kok belum tidur ?”Vivi berpaling menghadap Maminya, “Aku nggak bisa tidur, Mami tadi berisik banget. Ngapain sih sama Om Tobi ?”Akhirnya saya menjelaskan, setelah sebelumnya menyuruh Sisi duduk di samping saya, dan Vivi saya suruh duduk di karpet, menghadap kami.

“Vivi , kamu kan tahu, Papi sama Mamimu sudah pisah ranjang selama hampir 4 bulan. Sebenarnya Om sama Mami sedang melakukan kegiatan yang sering dilakukan sama Mami dan Papimu setiap malam. Om dan istri Om juga sering melakukan ini,” kata saya sambil melirik Sisi yang terlihat sudah agak santai.

“Tapi karena sekarang ndak ada Papi, Mami minta tolong Om Tobi untuk melakukan hal itu.”Vivi  terlihat sedikit bingung, “Hal itu hal apa Om ?”Di sini, Sisi mencoba menjelaskan, “Vi, Mami jangan disalahin ya,…Vivi  sayang Mami kan ?”Vivi tersenyum, “Iya lah, mi. Vivi saayyaaaang banget sama Mami. Tapi Vivi mau tahu, Mami sama Om Tobi ngapain ?”Saya tersenyum sendiri mendengar rasa ingin tahu Vivi yang cukup besar, “Om Tobi sama Mami lagi making love.

Kamu tahu artinya kan ?”“Mmh,… iya dikit-dikit. Jelasin semua dong Om,… Vivi mau lihat,” jawab Vivi .Wah,… kaget sekali mendengar Vivi bicara begitu. Lalu saya melirik Sisi , dan Sisi mengangguk mengerti. “Vivi  beneran mau lihat Mami sama Om Tobi making love ?” tanya Sisi .Vivi menjawab dengan polos, “Iya mau. Dan kalau Om Tobi mau ngajarin, Vivi juga mau diajarin,… biar bisa”. Saya beneran seperti ketiban durian runtuh, “Mmhh, tanya Mami ya ?! soalnya Om tidak bisa ngajarin, kalo Mamimu tidak ngijinin,… Om sih mau aja ngajarin.”Vivi  merajuk, merayu Maminya, “Mi, boleh ya ?”Sisi ragu-ragu menjawab, “Kamu lihat aja dulu deh ya ?!”Sambil tersenyum Vivi menjawab, “Iya deh,…,” senang sekali ia.

Setelah itu, Vivi saya suruh mundur beberapa langkah, dia masih duduk dan memperhatikan dengan serius, ketika saya ‘memamerkan’ batangan besar saya. Dan Vivi hanya bisa melongo ketika saya mengulum bibir Maminya sambil mengelus-elus vagina yang tanpa bulu itu. Tak lama kemudian, Sisi saya suruh untuk melakukan pekerjaan menghisap lagi. Sambil Sisi disibukkan dengan pekerjaannya itu, saya menyuruh Vivi untuk duduk mendekat disamping saya.

“Lihat Vi, Mami seneng banget kan ?” kata saya. Sementara Sisi melirik kami sambil terus menjilati ‘Mr. Penny’ saya. “Vivi  sudah pernah ciuman belom ?” tanya saya.“Belum Om.”“Mau Om ajarin ndak ?” tanya saya lagi sambil melingkarkan tangan saya di lehernya.“Mau !” jawabnya singkat.“Ya sudah,… Vivi ikutin Om aja ya,… apa yang Om Tobi lakukan, diikutin ya ?!”Belum sempat Vivi menjawab, saya langsung saja mengulum bibirnya, tegang sekali si Vivi . Ketika saya menarik lidah saya dengan lembut di dalam mulutnya, Vivi terasa berusaha mengikuti, walaupun dengan gerakan yang tidak beraturan.

Sisi terus menghisap batangan saya, ketika saya melucuti tubuh anaknya yang putih bersih dan mulus itu. Buah dada Vivi memang belum begitu besar, tapi untuk ukuran anak kelas 2 SMP, sudah cukup ranum. Puting susunya masih berwarna merah muda dan ketika saya memilin-milinnya, si Vivi bergelinjang kegelian. Tak lama kemudian, Sisi berlutut di depan saya dan membantu Vivi melepas celana dalamnya yang berwarna hijau muda. Vivi menurut aja ya sama Om Tobi “kata Sisi .

Sementara saya meremas-remas toketnya, Sisi menyuruh Vivi untuk menggenggam batang ‘Mr. Penny’ saya.“Vi, sekarang kamu jongkok disini ya “ kata Sisi , “Kamu hisap ‘Mr. Penny’nya Om Tobi , seperti Mami tadi. Jangan dihisap terus, nanti kamu kehabisan nafas, “ Sisi tersenyum sayang kepada Vivi , “Kadang di lepas, terus di jilat-jilat. Pokoknya kayak Mami tadi. Bisa kan ?”Vivi  menjawab singkat, “Bisa, mam “Saya mengarahkan si ‘adik’ ke mulut Vivi , sambil mengelus rambutnya yang hitam legam. “Pelan-pelan Vi, jangan ditelan semuanya ya !” Vivi tersenyum. Sisi memperhatikan cara Vivi menghisap, kadang dia memberikan instruksi.

Nikmatnya Threesome Dengan Ibu Dan Anak

Tak lama setelah itu, saya menyuruh Vivi berdiri. Saya tersenyum memandang vaginanya yang masih rapat, tampak bulu-bulu halus menghiasi lubang sempit yang berwarna putih kemerahan itu. Terus terang saya tidak tega untuk menembusnya. Ya sudah, saya ciumi dan jilati saja ‘Veggy’ muda itu.

Vivi benar-benar kegelian. Akhirnya, Sisi menyuruh Vivi istirahat. Pekerjaannya dilanjutkan oleh Sisi . Tanpa berbasa-basi, Sisi langsung menduduki ‘Mr. Penny’ saya, dan mulai melakukan gerak maju mundur, nikmat sekali. Sambil Sisi terus mengerjai ‘Mr. Penny’ saya, saya meremas-remas toketnya.

Setelah itu, kami pindah tempat. Saya berbaring di karpet, dengan Sisi masih menduduki si ‘adik’, kali ini dia membelakangi saya. Vivi yang hanya diam melihat aksi kami, saya suruh mendekat ke arah saya. Saya menyuruh dia untuk jongkok, dengan posisi ‘Veggy’nya di mulut saya. Sambil saya remas pantatnya, saya tembus liang sempit itu dengan lidah, terkadang, saya sapu dengan jari, sampai akhirnya, setengah jari tengah saya, masuk ke ‘Veggy’nya dan direspon dengan gerakan yang sangat liar. Vivi mulai mendesah tidak karuan, sementara pada saat bersamaan, Maminya mendesah keenakkan.

Saya mulai serius menanggapi Sisi . Vivi saya suruh menyingkir. Setelah itu, saya membalik tubuh Sisi , sekarang dia yang dibawah. Saya lebarkan kakinya dan saya tusuk dengan tajam dan tanpa ampun. Kali ini, Sisi bertahan cukup lama, dia sudah mulai terbiasa dengan tusukan-tusukan saya. Akhirnya Sisi tidak tahan juga, begitu juga saya. Dia orgasme, berbarengan dengan saya yang kembali memuntahkan sperma ke dalam liang kemaluannya. Setelah melepas si ‘vladimir’, Vivi saya suruh menjilatinya.

“Mmmhhh,….. Om… kok asin sih rasanya ?“ protes Vivi .Sisi  sambil terengah-engah menjawab, “Memang gitu rasa sperma. Tapi enak kan ? Mami bagi dong ?!”Saya senyum-senyum saja melihat anak beranak itu berebut menjilati ‘Mr.Penny’ saya

Pada saat itu, saya teringat Vina (anak Mirna) yang selalu senang dan tertawa ketika melihat ibu dan tantenya berebutan ‘Mr. Penny’ dan menjilati sisa sperma di ujungnya. Begitu juga Sisi dan anaknya, Vivi , yang seperti mengagungkan batangan saya. Saya memegang kepala ibu dan anak itu, dan dengan maksud bercanda, kadang saya buat gerakan yang memaksa mereka harus berciuman dan menempelkan lidah masing-masing. Mereka tertawa dan tersenyum ceria, tanpa beban.

Sekali dua kali, kami masih sering bersenggama bertiga. Tapi sekali tempo, saya hanya berdua saja dengan Vivi , yang benar-benar telah merelakan keperawanannya saya ambil. Tapi kalau dengan Sisi,… wow, jangan ditanya berapa kali, kami sering janjian di sebuah restoran di PIM, dan Grisa, anak bungsu Sisi, selalu diajak. Pernah suatu saat, ketika saya dan Sisi sedang ‘perang alat kelamin’ di kamar mandi rumahnya (tanpa menutup pintu), Grisa tiba-tiba masuk dan menonton dengan bingung adegan saya dan Maminya yang sedang nungging di bathtub.

dia bertanya kepada Maminya (walaupun tidak dijawab, karena sedang ‘sibuk’ “Mami diapain Om Tobi , kok teriak-teriak ?” katanya. Dan dia pun ikut menyaksikan kakaknya, yang saya senggamai di ruang TV, di samping Maminya yang telanjang bulat, dengan sperma di buah dadanya yang besar itu (bila saya buang di luar, dia tidak mau membersihkan sendiri, selalu menyuruh Vivi untuk menjilatinya).

Kami masih sering melakukan itu sampai sekarang.

SUMBER : CERITASEKSONLINE.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *