Dosaku Terhadap Angga
Aku kini benar-benar terbangun setelah mendengar dengkuran Mas Har beberapa lamanya. Kuperhatikan dada dan perutnya yang padat lemak itu naik-turun seirama dengan suara dengkur yang makin menjengkelkanku. Aku turun dari ranjang dan berjalan menuju cermin besar di kamar tidur kami. Kupandangi dan kukagumi sendiri tubuh telanjangku yang masih langsing dan cukup kencang di usiaku yang tigapuluhan. Kulitku masih cukup mulus dan putih, payudaraku tetap bulat dan kenyal, pas benar dengan bra 37B warna pink favoritku saat kuliah. Dan wajahku masih halus, semua terawat oleh kosmetik yang aku dapatkan dari uang Mas Har.
Ah, aku masih sangat menarik. Tentu saja, tanda-tanda ketuaan tak bisa dihindari, namun tubuhku belum pernah melar karena hamil, apalagi melahirkan. Aku masih ingin meniti karierku, aku ini wanita yang menikmati kekuasaan. Dan menikah dengan Mas Har membuka lebar-lebar kesempatan untuk meraih ambisi itu. Kualihkan pandangan pada sosok lelaki tambun di ranjangku. Mas Har yang dulu tampil sangat jantan, bisa sangat berubah dalam waktu 12 tahun. Rambut halus di dada dan perutnya dulu yang selalu membuatku bergairah bila dipeluknya, kini tumbuh makin lebat dan liar, sedangkan Mas Har tidak pernah mau mencukurnya.
Perutnya yang kokoh dulu kini ditutupi oleh selimut lemak yang sangat tebal. Memang otot dada dan tangannya yang kekar masih bertahan. Namun kalau aku bercinta dengan Mas har sekarang, rasanya aku sedang ditiduri oleh seekor gorilla. Memuakkan.
Meski begitu, hasratku akhir-akhir ini makin tak tertahankan. Seringkali, akulah yang meminta duluan ke Mas Har untuk memuaskan nafsuku. Namun gara-gara stamina Mas Har yang loyo di usianya yang setengah abad lebih, aku hampir pasti tidak terpuaskan dan kebanyakan aku sendiri yang menyelesaikan “tugas” Mas Har. Sama seperti yang terjadi sore ini, tinggal sebentar lagi aku merasakan orgasme, tiba-tiba Mas Har keluar, dan dengan napas tersengal-sengal ia membelai-belai tubuhku kemudian tertidur lelap di sampingku. Lagi-lagi harus jari-jariku sendiri yang memuaskanku. Aku sudah tak tahan. Aku tidak peduli lagi pada nilai dan norma yang berlaku bagiku sebagai perempuan. Kubulatkan tekadku, kemudian aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari bekas cumbuan suamiku yang memuakkan.
Selesai sarapan Mas Har pamit padaku dan mengatakan betapa menyesalnya dia harus meninggalkanku akhir pekan ini ke Singapura, demi kepentingan lobby perusahaannya. Mas Har memang pernah menawarkan padaku untuk pergi bersamanya, tapi aku menolak dengan alasan aku lelah dengan pekerjaan kantorku dan sedang tidak ingin pergi begitu jauh hanya untuk berbelanja. Dan kesempatan ini akan aku gunakan sebaik-baiknya. Sore ini aku akan punya kegiatan yang lebih menarik dari sekedar berbelanja, di Singapura sekalipun. Supir kami mengantar Mas Har pergi dan 30 menit kemudian aku pergi menuju kantor membawa sedanku sendiri.
Setelah makan siang aku kembali ke kantor dan menyelesaikan sebagian pekerjaanku hari itu dan dua jam sebelum waktu pulang, aku menyerahkan sisa pekerjaan itu ke bawahanku. Mereka tidak terlalu senang dengan tugas mendadak itu, tapi tampaknya mereka sudah terbiasa dengan perangaiku. Mereka paham bahwa aku tidak ingin menjadi lelah, karena sepulang kerja nanti aku akan pergi bersama teman-temanku, eksekutif wanita muda yang lain. Hanya saja mereka tidak tahu kalau hari itu, aku sudah membatalkan acara jalan-jalan kami.
Kukemudikan sedanku ke arah rumahku, namun kemudian berbelok menuju tempat lain. Sekitar 15 menit kemudian aku berhenti di samping sebuah lapangan basket di dalam suatu perumahan. Di sana sejumlah remaja SMU sedang bermain. Aku turun dari mobilku dan duduk di samping lapangan tempat tas-tas mereka diletakkan, lalu menyaksikan permainan mereka. Salah satu dari mereka, yang mengenakan kostum basket warna merah, melihatku lalu tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku membalas dengan cara serupa. Dia adalah Angga, anak salah satu bawahanku yang sedang kutugaskan pergi ke luar kota selama beberapa hari. Hubunganku dengan keluarga mereka cukup akrab untuk mengetahui bahwa Angga mengikuti latihan basket dua kali seminggu di sana.
Sepuluh menit kemudian permainan berakhir dan sejumlah remaja itu menuju ke tas mereka, yaitu ke arahku. Aku berjalan menuju Angga membawa sebotol minuman yang sudah kusiapkan pagi tadi.
“Ang, minum dulu nih. Ternyata tadi di mobil Tante masih ada sebotol”, tawarku.
“Oh iya, Tante, makasih!”, jawabnya tersengal.
Tampaknya ia masih kelelahan. Angga mengambil botol dari tanganku dan segera menghabiskan isinya. Kami berjalan menuju tasnya. Dan ia mengeluarkan handuk untuk menyeka keringatnya. Aku mengintip sebentar ke dalam tasnya dan bersyukur aku memberikan botol minumanku kepada Angga sebelum ia sempat mengambil minuman bekalnya sendiri.
Sebagai pemain basket, Angga sangat tinggi. Dari tinggi tubuhku yang hanya 168 cm ini, kuperkirakan kalau tinggi Angga sekitar 180an cm. Bisa kuperhatikan tangan Angga lebih kekar untuk anak-anak seusianya, sepertinya olahraga basket, renang dan karate yang ditekuninya selama ini, benar-benar melatih fisiknya. Figur tubuhnya menunjukkan potensinya sebagai atlet basket. Aku beralih ke wajah gantengnya yang masih tampak imut walau basah oleh keringat. Dengan kulit yang kuning, wajahnya benar-benar manis. Aku tersenyum.
Setelah menyeka wajahnya, Angga memperhatikanku sebentar dan berkata, “Tante Nia dari kantor? Kok pake ke sini?”
“Nggak, males aja mau ke rumah, enggak ada temannya sih. Om Harry lagi ke Singapura. Jadi tante jalan-jalan.. terus ternyata lewat deket-deket sini, sekalian aja mampir..” ujarku setengah merajuk.
Ia beralih sebentar untuk ngobrol dan bercanda dengan temannya.
“Sama dong Tante, Angga lagi males nih di rumah, nggak ada orang sih!”
“Nggak ada orang? Ibu sama adik kamu ke mana?”
“Nginep di rumah nenek, besok sore pulang. Aku disuruh jaga rumah sendirian”. Angga menaruh handuknya dan duduk di sampingku.
“Oh, kebetulan banget ya..” kata-kata itu tiba-tiba terlepas dari mulutku.
Yang dikatakan Angga benar-benar di luar dugaanku, tapi justru membuat keadaan jadi lebih baik. Aku tidak perlu bersusah payah untuk mencari tempat ber..
“Kenapa, Tante? Kebetulan gimana?”
“Iya, kebetulan aja kita sama-sama cari teman..” Angga tersenyum.
“Sebenarnya.. Ehh.. Tante ada perlu sih ke rumahmu. Ada file laporan penting yang harus diambil segera, padahal papa kamu masih di luar kota. Kira-kira bisa nggak ya, tante ke rumahmu ngambil file itu? Tante sudah bilang kok sama Papa kamu, katanya tante disuruh ngambil aja di rumah..”
“Oh, nggak apa-apa kok. Cuma mungkin agak lama ya, Tante. Soalnya aku musti cari-cari kunci cadangannya lemari papa. Biasanya selalu dikunci sih, kalau pergi-pergi. ”
“Nggak masalah, Tante nggak buru-buru. Kita pergi sekarang?”.
Angga mengangguk lalu kami berjalan menuju mobilku. Angga melambaikan tangan pada teman-temannya dan meneriakkan kata-kata perpisahan. Kuperhatikan teman-teman Angga saling berbisik dan tertawa-tawa kecil melihat kami pergi.
“Di rumah benar-benar nggak ada orang yah, Ang?”
“Cuma aku doang, Tante. Untungnya sih Mama ngasih uang lumayan buat cari makan.”
“Aduh.. Kaciann..” kataku manja. “Tapi biasanya seumuran kamu pasti ada pacar yang nemenin kemana-mana kan..”
Angga menoleh dan tersenyum padaku. “Wah, Angga nggak punya Tante. Belum ada yang mau!”
“Ah, masa? Cowok keren kaya kamu gini loh!” Kutepuk pelan lengannya, mencoba merasakan sejenak kekokohan otot-ototnya. “Kalau Tante sih, sudah dari dulu Angga tante sabet!”
Angga hanya tertawa ramah, ia sudah biasa dengan gaya bercandaku yang agak genit itu. Padahal sebenarnya, sosok macho Angga benar-benar sudah mempesonaku saat ia diperkenalkan padaku dan Mas Har setahun yang lalu.
Perjalanan ke rumah Angga memakan waktu sekitar 30 menit karena jalanan sudah penuh oleh mobil-mobil orang lain yang menuju rumah masing-masing. Dalam perjalanan aku tetap memperhatikan Angga. Aku ingin tahu apakah minuman yang tadi Angga minum sudah menunjukkan reaksinya. Biasanya aku menggunakan obat itu untuk memancing nafsu Mas Har dan mempertahankan staminanya. Aku mungkin sudah gila.. Mencoba untuk tidur dengan remaja SMU anak pegawaiku sendiri.. Tapi biarlah.. Gelegak di diriku sudah tak mampu lagi aku bendung.
Tadi pagi aku memberikan dosis ekstra pada minuman yang kuberikan pada Angga, dan sekarang aku penasaran akan efeknya pada tubuh belia Angga. Bisa kulihat sekarang napas Angga mulai naik-turun lagi setelah sempat tenang duduk dalam mobil. Duduknya juga tampak sedikit gelisah. Aku menepi. Kami sudah sampai.
Ia membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. Aku duduk nyaman di sofa ruang tamu dan ia menuju dapur untuk menyiapkan segelas minuman buatku. Rumah Angga tidak besar, tetapi sangat nyaman dan asri walau sekedar cukup untuk tinggal empat orang. Sekali lagi aku menanyakan pada diriku sendiri, apakah aku ingin melakukan hal ini.. Dan sedetik kemudian aku menjawab: aku memang benar-benar menginginkannya..
Kutanggalkan jas dan blazerku, menyisakan sebuah tank-top putih untuk melekat di bagian atas tubuhku. Tadi pagi aku sudah mematut diri di kaca dengan tank-top ini. Sebenarnya ukurannya sedikit lebih kecil dari ukuranku, hingga cukup ketat untuk memperlihatkan dengan jelas bentuk payudaraku, bahkan kedua puting susuku. Aku tersenyum geli ketika meihat diriku di cermin pagi itu. Rok miniku kutarik sedikit lebih tinggi, dan kusilangkan kakiku sedemikian rupa hingga Angga yang nanti kembali dari dapur akan memperhatikan pahaku yang kencang dan mulus ini.
Angga keluar beberapa menit kemudian membawakan segelas sirup dengan batu es. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju meja di depanku. Aku berusaha menahan tawaku kala menyaksikan ekspresi wajahnya ketika dia melihat perubahan penampilanku sekembalinya dari dapur.
“Panas banget, Ang. Makanya Tante copot blazernya”, kataku setengah mengeluh.
“Iya, memang di sini nggak ada AC seperti di rumah Tante”.
Suara Angga sedikit terbata, nafasnya naik-turun, dan mencoba tersenyum. Kulihat Angga juga berkeringat, tapi aku tahu hal itu bukan hanya karena panas yang ada di ruang tamu ini. Aku sempat melihatnya melirik ke belahan dadaku. Aku mengambil gelas yang dingin itu dan menggosokkannya pada bagian bawah leherku yang berkeringat. Segar sekali..
“Ahh.. Seger banget Ang. ”
Angga menelan ludahnya. Kuminum sedikit sirup itu.
“Uhh.. Top banget. Enak, Ang”, ujarku setengah mendesah. Kulihat dia menelan ludahnya kembali.
“Hmm.. Tante.. Angga.. Angga cari kunci lemarinya papa dulu ya..” kata Angga. Aku sempat memergokinya matanya mengintip ke arah paha dan belahan dadaku ini. Anak ini pemalu juga, kataku dalam hati. “Oh, iya deh, Tante tunggu. ” Angga kemudian bergegas menuju satu lemari besar di samping sofa dan mulai membuka laci-lacinya.
Aku bersabar sedikit lebih lama. Aku tahu dari tingkah laku Angga yang makin gelisah, kalau obat itu sebentar lagi akan benar-benar memberi efek. Setelah 10 menit mencari dan belum menemukan kunci itu. Aku berjalan ke arah Angga yang masih membungkuk, mencari kunci itu di salah satu laci.
“Ang.. Apa nggak lebih baik..”
Angga lalu berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadapku. Aku tahu dia sempat mencuri pandang ke arah dadaku lagi sebelum melihat ke wajahku. Ia menelan ludahnya. Aku mendekat padanya hingga jika aku melangkah sekali lagi tubuhku akan langsung bersentuhan dengannya. Angga mencoba mundur, tapi lemari besar itu menghalanginya.
“Kenapa..? Tante..?”, nafasnya terasa menyentuh dahiku.
Aku mendongak sedikit, menatap wajahnya.
“Lebih baik kamu..” Tanganku meraba otot bisepnya, tebal dan padat..
“Mandi dulu..” Tanganku yang satu menyentuh tepi bawah kostum basketnya.. sempat kucium aroma keringatnya yang maskulin itu… hhhhmmm…
“Terus ganti baju..” Kedua tanganku mulai mengangkat kausnya..
“Kan, kamu keringetan gini..” Tanganku setengah meraba otot-otot perutnya yang keras dan liat sambil terus membawa kausnya ke atas..
“Nanti.. Kuncinya.. Dicari lagi..” Dada bidangnya begitu kokoh, dan terasa sekali paru-parunya mengembang dan mengempis semakin cepat, jantungnya berdegup kencang.. Wajahku terasa panas, jantungku ikut berdetak cepat. Angga mengangkat lengannya dan berkata, “Ya Tante..”
Tapi suara Angga lebih mirip desahan berat. Kuangkat lagi kausnya ke atas dan Angga dengan cepat meneruskan pekerjaanku dengan gerakan yang terlihat seksi di mataku, dan kemudian melemparkan kausnya ke samping. Angga sekarang bertelanjang dada, dengan celana selutut masih dikenakannya. Aku menelan ludahku melihat pemandangan menggiurkan dari seorang remaja lelaki yang menggairahkan libidoku macam Angga ini. Aku terus merapatkan tubuhku padanya namun tiba-tiba aku berhenti setelah merasakan sesuatu mengenai perutku. Aku mundur sedikit dan melihat ke arah dari mana sentuhan di perutku berasal.
“Oh..!”, bisikku sedikit terkejut.
Dari dalam celananya terlihat tonjolan yang cukup panjang dan besar. Penis Angga.. Siluetnya terlihat jelas dari celana basketnya yang longgar. Aku melihat wajah Angga. Ia juga melihat tonjolan di celananya itu, sedikit terkejut, kemudian melihatku. Napasnya menderu.
“Eh, maaf tante.. aku.. Nggak pernah.. Pake..”
“Celana dalam? Nggak.. Pernah..?” potongku.
Ia hanya menggeleng dan kembali menatapku penasaran.
Aku tersenyum. “Nggak apa-apa.. Lebih baik gitu..”
Wajah imutnya memperlihatkan keterkejutan. Tapi aku segera kembali merapatkan tubuhku dan maju lebih berani. Kucengkeram batang kemaluannya dari luar celananya. Angga tampak semakin terkejut dan tubuhnya berguncang sedikit. Kemudian semua berjalan menuruti nafsu kami yang bergelora.
Angga memelukku, membawa bibirku rapat ke bibirnya dan melakukan ciuman paling bernafsu yang pernah aku terima dalam satu dekade ini. Lidahnya bergelut liar dengan lidahku, bibirku digigitnya pelan.. Kupegang kepalanya dan kurapatkan terus wajahnya dengan wajahku. Kuacak-acak rambutnya dan kupeluk erat tubuhnya, seakan aku ingin seluruh tubuhnya masuk ke dalam ragaku.
Angga mencoba menyudahi ciuman itu. Aku khawatir ia akan menolak untuk bertindak lebih jauh, hingga aku tidak membiarkannya. Tapi aku sudah sulit mengatur napasku, dan akhirnya kulepaskan wajahnya. Aku tersengal, mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ternyata Angga sama sekali tidak berhenti. Saat aku ditaklukkan nafsu saat berciuman tadi, Angga sudah berhasil melepaskan tank-topku tanpa sedikitpun aku menyadarinya. Tank-top itu kini berada di bawah kakiku. Dan kini Angga mulai menghisap dan menjilati leherku dengan buas.
“Ohh.. Anngghh..” ini dia yang selama ini kudambakan, gairah dan energi yang begitu meluap..
Lidah Angga bergerak lagi ke bawah.. Membasahi belahan dadaku.. Berputar sebentar di sekitar puting kiriku, memberikan sensasi geli yang nikmat.. Kemudian Angga melahap payudaraku.
“Ouuhh.. Kamu.. Ahh.. Kurang ajar yahh.. Hmmpphh.. Terusin Anngg.. Ahh.. Mmmhh..”
Remaja ini.. Benar-benar bernafsu.. Ia lalu melakukan hal sama pada payudaraku yang sebelah kanan dan segera membawaku ke ambang orgasme.. Aku merasakannya.. Sedikit lagi.. Tapi ia tiba-tiba berhenti, membuatku melihat ke bawah, ingin tahu apa yang terjadi. Ia berlutut, dan mencoba melepaskan rok miniku. Tanganku bergerak cepat membantu Angga dan dua detik kemudian rok itu sudah jatuh ke lantai. Aku mencoba melepaskan pula celana dalamku, namun Angga lebih cepat.. Ia merobeknya dengan tangan kekarnya.. setelahnya dipepetkannya tubuhku ke dinding di sampingku. Dipangkunya salah satu kakiku ke atas bahu bidangnya. Satu kakiku, dibiarkan berdiri. Tak urung lubang kemaluanku pun terpampang lebar, menggodanya. Sejurus kemudian lidahnya beraksi lagi.. kali ini dalam liang kewanitaanku..
“Anggahh.. Kamuhh.. Nggak sopann..”
Kumajukan pinggulku, rasanya aku ingin membenamkan seluruh wajah Angga ke dalam vaginaku.. Lidah Angga yang tak terlatih, membuatku harus membantunya menyentuh daerah yang tepat dengan menggerakkan kepala remaja itu.
“Uuuhh.. Di sini Anngghh.. Ohh.. Yeeaahh..!!”
Angga terus bergerilya dalam lubangku hingga aku merasakan gelombang demi gelombang kenikmatan yang sangat hebat. Cukup lama Angga menjilat dan menghisap kemaluanku, hingga sampailah orgasmeku yang pertama kalinya ketika aku disentuh lelaki yang bukan suamiku….
“Angghh.. Tante.. Mau.. Aaahh!!”
Tubuhku menggeliat seiring dengan orgasme yang melandaku. Angga dengan liar menjilati cairan-ku sampai tetes yang terakhir. Kakiku terasa lemas.. Pelan-pelan aku terduduk.. Dan kemudian berbaring di lantai.. Merasakan sisa-sisa kenikmatan yang telah Angga berikan sambil terengah-engah..
Aku melihat ke arah Angga. Ia juga sedang terengah-engah. Tubuhnya berdiri kokoh di hadapanku. Tubuh mudanya yang begitu kekar dan berkeringat, berkilat oleh pantulan matahari sore yang menerobos jendela kamar. Dan.. Tak ada lagi celana basket yang melekat di tubuh itu. Pistolnya.. Mengacung tegak ke arahku, menantangku. Batangnya begitu besar.. Pasti lebih dari 20 cm, dan tebal. Rambut tipis dari kemaluannya berlanjut ke atas menuju pusarnya. Oh.. Begitu muda dan gagah.. kejantanan pemuda ini…
“Tante.. Aku..”
“Giliran Tante, Ang!”
Aku berdiri, menghimpit tubuhnya dan mulai menjilati tubuh remaja itu. Tangannya yang kuat mengelus-elus rambutku, lalu mendekap kepalaku sambil mengusap punggungku. Saat kujelajahi leher kokohnya, Angga mendesah. Angga terus mendesah perlahan dan rambutku diacaknya, saat kujelajahi bukit dada dan kugigit-gigit putingnya. Tanganku dengan mudah mendapati penisnya, kemudian kukocok pelan. Sementara itu lidahku mengembara di perut Angga yang begitu indah dengan otot-ototnya yang pejal dan liat.
Kini aku sampai pada pusarnya. Lidahku terus bergerak turun dan kulahap pucuk batang kejantanan Angga. Angga menggeram dan mengerang-erang penuh nikmat. Kukulum batangnya dan aku sangat puas mendengar Angga terus mendesah.
“Ooohh.. Tante.. Ahh..”
Kucoba untuk menelan lebih dalam, tapi ukuran penis Angga terlalu besar. Kulumanku terus bertambah liar di permukaan batang pistolnya, membuat erangan dan desahan nikmat Angga semakin keras terdengar. Tak sesenti pun batang dan pucuk pistol Angga yang bagaikan jamur besar itu, yang tidak kujilat, dan kuhisap, serta kukocok. Kupermainkan pula bola-bola kemaluannya yang begitu menggairahkan itu. Kulirik Angga yang terus mengerang, sambil memejamkan matanya. Dia terus menerus memberi semangat padaku yang sedang liar merambahi kemaluannya. Dia remas-remas rambutku, dan sesekali dia meremas-remas payudaraku. Setelah 10 menit kuoral pistolnya, aku mulai tidak sabar. Sudah saatnya pistol Angga kumasukkan dalam sarungnya…
“Ayo Ang, biar tante ajarin caranya jadi lelaki..”
Kuajak dia berbaring di lantai, lalu pelan-pelan aku duduk di perutnya sambil memposisikan diriku di pangkuannya. Kuarahkan pistolnya ke arah vaginaku. Perlahan kucoba memasukkan pistol Angga ke ’sarung’nya, memastikan agar aku mendapatkan kenikmatan yang aku mau. Perlahan tapi pasti, masuk sudah pistol Angga yang besar, hangat, dan panjang itu ke dalam milikku. Uuuhhh…. rasanya lama sekali baru kurasakan batangan panas itu sampai ke ujung rahimku, akibat ukurannya yang begitu panjang dan besar. Sepertinya milikku disumpal oleh dildo yang begitu besar. Nikmat sekali rasanya. Angga tampak melenguh-lenguh penuh nikmat dan wajah imutnya menampilkan ekspresi kosong tapi sarat nikmat.
“Aaahh.. Angga.. Punya kamuhh.. Besaarr.. Uuhh..”
Aku membelai-belai bukit dadanya, dan mulai bergerak naik-turun. Semakin lama semakin cepat dan liar. Angga melenguh dan memejamkan mata, meresapi setiap gerakan yang kubuat.
“Uuuhh.. Eegghh.. Aduhh.. Nggak pernah.. Angga.. Ngerasain.. Enak kaya ginihh..”
Setelah mulai terbiasa dengan ritmeku, Angga membuka matanya. Tangannya memegang kedua payudaraku yang naik turun.
“Tante Nia.. Oohh.. Seksi banget.. Ahh..”
Ia meremas-remasnya.. sesekali dia bangkit untuk menyusui kedua payudaraku dengan buasnya. Dia hisap-hisap dan gigit-gigit puting dadaku secara bergantian… Dan terasa sangat nikmat sekali… saat ini aku benar-benar menghayati permainan Angga. Tapi aku segera tersadar, AKULAH yang akan memuaskan Angga, apalagi akulah yang menggodanya…
Aku mempercepat gerakanku, sambil sesekali memutar-mutar pinggulku. Angga tampak meringis-ringis penuh nikmat kala pistolnya kuhisap-hisap dan kujepit kencang-kencang.
“Ohh.. Tante.. Terusiinn.. Enaakk.. Aahh.. Mmmhh..”
Tangannya beralih ke pantatku, mencoba ikut mengatur ritmeku. Kuberikan apa yang Angga minta, semakin kujepit batangnya dan aku semakin bergoyang menggila.
“Gini kan.. Mau kamu, Angghh.. Ehh..”
“Uhh.. Yaa.. Ohh.. Aaagghh.. Kenceng bangett.. Ayo tante..”
Aku bagai lupa daratan, kenikmatan yang kurasa benar-benar membius. Kami terus menerus saling membelai, mencabik, meremas apa yang bisa diremas, menjilat apa yang harus dijilat, menggigit apa yang pantas digigit, mencengkeram, saling berteriak-teriak penuh nikmat… gerakan naik-turun dan goyangan pinggulku semakin liar seiring semakin kuat dan kencangnya sodokan pistol Angga di lubang vaginaku.
Bukit dada dan perut sixpack Angga sudah penuh dengan bekas cupangku, begitu pula sebaliknya. Tak ada permukaan kulit payudara, leher dan perutku, yang tidak berwarna kemerahan, hasil kerjaan nakal mulut dan tangan Angga. Keringat kami begitu deras mengalir, membuat tubuh kami licin dan mengkilat, bagaikan ada minyaknya. Kira-kira setelah bercinta hampir sejam, kurasakan tanda-tanda itu. Sebentar lagi.. Tinggal sebentar… laggiiiihhh….
“Tantee.. Oooaagghh!! Oh, yeaahh!!”
“Annggaa.. Aaagghh.. Ohh.. Ohh..”
Aku merasakan kenikmatan paling dahsyat dalam hidupku, meraih orgasme bersamaan dengan Angga, yang sedetik kemudian disusul ejakulasiku, dan diakhiri dengan ejakulasi Angga. Kami terus berpelukan lalu bergulingan di lantai yang dingin itu sementara Angga masih meneruskan tikaman penisnya dalam vaginaku setelah dia menyemburkan spermanya yang kental dan banyak ke vaginaku. Tikaman demi tikaman itu membawaku semakin jauh dari dunia ini..
“Ohh.. Anggaa.. Ohh.. Kamu.. Udahh.. Bukan perjaka.. Lagi.. Ahh..”
Ia terus menciumi bibirku, memanjakan payudaraku dengan membelai-belainya, dan mengusap-usap rambutku dengan penuh kasih sayang… Dengan napas yang tersengal-sengal, Angga mencium pipiku mesra dan berbisik parau di telingaku,
“Duhh.. Nggak nyangkah.. Tante.. Nakal banget.. Ahh.. Tapi Angga.. Suka.. Dinakalin.. Tante.. Ehh.. Kontol Angga masih ngaceng nihh.. ehh.. Mau Tante apain lagi..?”
Puas sekali aku mempermainkan Angga. Sisa hari itu kami habiskan dengan bercinta sepuasnya hingga keesokan harinya. Kami melakukannya dalam banyak gaya di beragam tempat, ruang tamu, keluarga, dapur, kamar mandi, kamar tidurnya, hingga halaman belakang rumahnya. Mulai dari gaya konvensional hingga gaya ala kamasutera yang sering kuidam-idamkan selama ini.
Angga ternyata remaja yang cerdas. Dia langsung mahir bercinta ditandai dengan keberhasilannya meraih orgasme-orgasme berkali-kali hanya dengan sekali-dua kali ejakulasi. Dia juga sukses membawaku orgasme berkali-kali.
Hubungan mesum antara aku dan Angga berlangsung terus hingga satu tahun ke depan, sebelum akhirnya kami berpisah. Remaja jantan itu melanjutkan kuliahnya di lain kota, sementara aku bersama Mas Har pindah ke Singapura. Sampai kini kami tidak pernah bersua kembali.
Aku menjadi kesepian. Ingin rasanya kami bercinta lagi. Satu hal yang pasti dan lebih membahagiakan, menurut Angga beberapa saat sebelum kami berpisah, dari semua wanita yang pernah tidur dengannya (dia menjadi playboy tulen setelah keperjakaannya kurenggut hari itu), hanya vaginakulah yang paling dahsyat jepitan dan hisapannya. Betapa senangnya hatiku mendengar penuturannya itu….
Tamat
sora@gmail.com
Kalau kamu tertarik dengan artikel di atas, silahkan berikan komentarmu di sini atau lihat FEED utuh dari artikel ini dan dapatkan kiriman artikel cerita seks kami melalui email Anda setiap hari. Caranya:
Comments
bwt yg btuh penghasilan tmbhan
progam ini djamin brhsil
klik az link dbwh ini
jg ragu
bkn penipuan
dijamin 200%
Jg takud gagal
ato krn anda pemula
anda akan dbmbing melalui panduan dan dpt lngsung konsultasi jika mengalami kesulitan
anda dpt jaminan 200% kalo merasa tdk puas
jg lewadkan ksmpatan ini
klik link berikut!!!
http://tinyurl.com/5etsdp
Bagi Temen cewek yang Pengen Cerita tentang Kepuasan Seks dan Pengen tau Tentang Seks, Chat aja sama saya di :
YM : kumbang_kelana79@yahoo.com
MSN: kumbang_kelana79@hotmail.com
Saya Online terus ko’ tiap hari
bwt tante2 kesepian ato cwe2 abg yg pingin dpt kepuasan sex hubungi q di 08156859340 atau 02875524001
tante yg sintal dan bahenol mau dibantu ber masturbasi dengan saya hub co_gigiolo66@yahoo.com atau ke 085692540570

masak ya jepitan meximu paling jitu ? kok g percaya ya , hbs dicobak kali